Saya jadi teringat ketika menimba ilmu di negara Paman Sam dulu sering melihat stiker bertuliskan nama sekolah atau universitas di belakang mobil seperti “My son goes to Stanford”. Putra saya bersekolah di Stanford (atau sekolah sekolah mahal lainnya). Kalau di sini orang orang membanggakan kekayaannya dengan menunjukkan rumah yang harganya Milyaran atau dengan mengadakan pesta dengan biaya Milyaran juga…. Maka orang-orang di Amerika membanggakan kekayaannya dengan menunjukkan bahwa dia sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal (walaupun mungkin rumah dan mobilnya sederhana saja).
Apa yang tertanam dalam pikiran saya sejak itu adalah bahwa setiap orang tua punya rencana sendiri bagi pendidikan anaknya. Tak kira dia kaya atau miskin. Dan pendidikan itu ada harganya.
Ketika akhir akhir ini setiap hari saya dipaksa mendengar tentang sekolah gratis… saya merasa sangat terganggu. Malah katanya sekolah gratis tidak hanya berlaku untuk sekolah negeri tapi juga sekolah swasta. Kenapa? Karena dengan cara seperti itu saya tidak diberikan pilihan lagi untuk memilih pendidikan terbaik bagi anak saya.
Bagi saya sekolah gratis adalah salah satu solusi termudah bagi pemerintah untuk mendapatkan simpati rakyat. Penyelesaian bagi orang yang malas mikir! Mereka tak mau memikirkan solusi yang lebih kreatif untuk memajukan bangsa ini. Terus biaya pendidikan dari mana? Dari APBN, APBD. Terus APBN dan APBD dari mana? Dari hutang. Nah kembali lagi lingkaran setan…buat apa anak kita dapat pendidikan gratis kalau pada akhirnya harus mikirin bayar utang negara.
Kemudian, secara alamiah orang tidak menghargai sesuatu yang sifatnya gratis. Bagaimana seorang guru dapat mengajar dengan baik kalau gajinya kecil. Bagaimana sekolah dapat menyediakan fasilitas kalau uangnya mengharapkan dana dari pemerintah saja. Bagaimana seorang anak mau belajar kalau dia tidak harus berusaha untuk sekolah, tidak ada kebanggaan bahwa dia mampu bersekolah. Tidak tumbuh rasa tanggung jawab dalam dirinya. Tidak akan ada lagi anak anak yang mau membantu orang tuanya mencari uang.
Salah satu cara untuk membantu rakyat miskin mendapatkan pendidikan yang baik adalah dengan secara individu atau berkumpulan membangun sekolah yang bagus sekaligus memberikan pada siswa tersebut. Yang seperti ini saya yakin telah dilakukan oleh beberapa individu dan organisasi di Indonesia. Tapi berapa persen anak yang bisa terjangkau oleh sistem ini. 1% anak Indonesia saja sudah sangat baik. Mudah mudahan kedepan akan banyak lagi orang atau organisasi yang dengan sukarela membangun pendidikan seperti ini.
Nah sekarang bagaimana membuat pendidikan tetap ada harganya tapi rakyat miskin tetap mampu menikmati pendidikan yg berkualitas. Dan bangga bahwa dia mampu bersekolah. Cara yang dilakukan beberapa Negara termasuk di Amerika dan di Malaysia adalah dengan memberikan pinjaman pendidikan. Dulu hal ini pun diterapkan di Indonesia tapi karena sistem kependudukan yang kacau, banyak yang tidak mengembalikan pinjaman itu. Well memang ini untuk tingkat perguruan tinggi, tapi pola yang sama dapat diterapkan untuk pendidikan yang lebih rendah. Mereka harus membayar pinjaman ini dengan prestasi. Alernatif kepada sistem pinjaman adalah dengan beasiswa prestasi. Inipun sudah dilaksanakan, Cuma penerapannya harus diperluaskan lagi.
Dengan demikian akan terjadi seleksi alam, anak akan bersaing untuk berprestasi karena hanya anak yang berprestasi yang tidak perlu mengembalikan pinjaman. Atau beasiswa hanya bisa diteruskan kalau seorang anak itu berprestasi.
Well ini harus didukung oleh administrasi yang baik. Tak apalah, saya yakin ada yang mau mengerjakannya. Adalah lebih baik pemerintah menyediakan uang untuk menggaji orang untuk mengerjakan administrasi ini daripada memberikan pendidikan gratis secara membuta. Dan biarkan orang yang mampu membayar harga pendidikan itu sesuai kemampuannya.
Dri tadi saya bicara tentang prestasi… pasti kebanyakan orang berfikir yang saya maksud dengan prestasi adalah rangking dikelas yang ditentukan oleh nilai raport. Sebenarnya bukan hanya itu … tapi biarlah akan jadi topic cerita saya berikutnya.
johor 2 juli 2009.
(dikutip dari tulisan “NG”, seorang dosen indonesia yang sekarang sedang berada di Malaysia).






