Oleh: wancik | Kamis, 7 Februari 2008

KRISIS MUTU ??

Kalau kita melihat bangunan yang dibangun saat ini, tentunya pada saat selesai dibangun kita akan kagum karena indahnya. Tetapi setelah beberapa lama, terkadang kita membandingkan dengan bangunan lama. Kalau bangunan-bangunan yang dibuat pada kurun waktu 40 – 50 tahun yang lalu memiliki daya tahan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan bangunan yang lebih muda usianya, padahal teknologi bangunan yang digunakan pada kurun waktu tersebut dibandingkan dengan teknologi masa kini masih sangat sederhana.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? hal tersebut diatas terjadi kemungkinan karena penurunan atau krisis mutu (quality crises) dari bangunan-bangunan sekarang yang disebabkan beberapa hal antara lain:

  1. Pekerja yang tidak berkompeten
  2. Penggunaan bahan atau material yang tidak memenuhi persyaratan
  3. Kurangnya kontrol terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan
  4. Pekerjaan yang dilaksanakan terburu-buru (Deadline)

Dengan adanya penurunan atau krisis mutu dari bangunan-bangunan sekarang, ada  baiknya kita tinjau kembali hal-hal sangat berhubungan dengan kualitas pekerjaan yang akan dihasilkan.

1.      Pekerja dan kompetensi

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri sebagai owner apakah kita mempekerjakan seseorang sesuai dengan bidangnya? Dalam pembangunan gedung misalnya, sebagai ujung tombak utama dalam pembangunan tersebut adalah pekerja atau tukang. Baik atau buruknya suatu pekerjaan terletak pada tukang tersebut.

 

 

 

 

 

Dari gambaran diatas dapat kita bayangkan, apakah pengawas lapangan akan terus menerus mengawasi pekerja ini? Disamping itu pekerja yang digunakan tentunya pekerja yang memiliki keterampilan dan pengalaman yang cukup. Bagaimana dengan upah mereka?

Di Indonesia, terkadang ironi sekali, kita menginginkan pekerja yang dapat dibayar dengan murah, namun apakah mereka memiliki keterampilan? Dengan pekerja yang tidak memiliki keterampilan dan upah yang dibayar murah, apakah pekerjaan yang dihasilkan akan memuaskan? Jawabannya tentunya ada pada kita sendiri. Beberapa kontraktor sudah ada yang memiliki pekerja yang mempunyai sertifikat dan keterampilan bahkan melakukan pelatihan terhadap pekerjanya.

 

2.    Pengetahuan tentang bahan atau material digunakan.

Kurangnya pengetahuan tentang bahan dapat menyebabkan hasil pekerjaan yang kurang baik. Misalkan saja dalam pembuatan beton dengan cara manual, bisa saja mutu beton yang diperoleh kurang dari yang diharapkan. Hal ini bisa saja terjadi karena pemakaian agregat kasar ataupun agregat halus (pasir) tidak sesuai standar. Terutama untuk pemakaian pasir sungai, jarang sekali untuk menguji kadar lumpur pasir maupun kandungan organiknya. Kandungan lumpur pada pasir dapat mempengaruhi ikatan semen dengan agregat. Dengan adanya beton ready mix tentunya lebih mempermudah pekerjaan. Kita tinggal pesan saja mutu yang diinginkan dan perusahaan beton ready mix akan mengantarkannya.

 

3.   Kontrol terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan

Kontrol terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan sangat penting sekali terutama pada bagian-bagian inti dari pekerjaan, seperti pekerjaan pembesian, pengecoran. Untuk pekerjaan pengecoran beton yang di pesan pada perusahaan ready mix siap digunakan untuk dituang. Pada saat penuangan biasanya beton yang kental tersebut agak sulit di ratakan dengan cara manual. Sering kali karena kurangnya pengetahuan dari tukang dan kurang kontrol dari pengawas, untuk mempermudah pekerjaan air ditambahkan pada adukan beton. Kita sering lupa walaupun kita terus menambah semen namun air juga terus ditambah maka kekuatan beton tidak akan naik. Dengan penambahan air menyebabkan mutu beton menjadi berkurang.

 

4.     Jangka Waktu Pelaksanaan

Kemungkinan karena waktu yang terbatas atau pekerjaan harus segera diselesaikan karena akan habis tahun anggaran, dan kurang profesionalnya pemilik dan pelaksana pekerjaan sehingga hasil pekerjaan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan standar. Biasanya hasil yang di dapat baik untuk sementara waktu tetapi tidak bertahan lama.

Misalnya dalam pembuatan jalan, kepadatan tanah sangat penting sekali untuk kestabilan dan kualitas jalan apalagi pembuatan jalan diatas tanah lunak. Namun karena ingin cepat selesai maka pekerjaan dilaksanakan asal jadi dan tidak sesuai dengan standar. Hanya lapisan permukaan jalan saja yang di buat bagus dan mulus. Tetapi setelah beberapa bulan dipakai jalan tersebut akan cepat rusak.

Namun bila kita secara profesional dengan menggunakan teknologi lebih tinggi, kita dapat melaksanakan pekerjaan dengan tepat waktu. Tetapi dengan penggunaan teknologi yaang lebih tinggi tersebut harus dibayar mahal dengan biaya yang tinggi pula.

Contohnya: bila landasan pacu pesawat yang retak atau pecah, apakah setelah proses penambalan landasan pacu harus menunggu waktu 28 hari setelah beton mengeras baru bisa digunakan? Tentu tidak bukan?

 

pdvd_012.jpg  pdvd_010.jpg

pdvd_006.jpg  pdvd_008.jpg


Responses

  1. saya ingin penjelasan mengenai beton harus lebih detil baik beton manual maupun beton readymix

  2. Beton adalah campuran antara Semen Portland atau semen hidrolis lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan membentuk massa padat.

    Pada dasarnya pembuatan beton baik dengan cara manual maupun beton ready-mix adalah sama dalam tujuannya yaitu untuk menghasilkan beton. Yang membedakannya adalah cara atau proses pengadukannya.

    Proses pengadukan beton dapat dibagi menjadi :
    1. Pengadukan dengan tangan (manual).
    2. Pengadukan dengan menggunakan mesin;
    – Mesin mixer dengan kapasitas kecil, seperti: molen.
    – Truckmixer (Beton Ready-mix)

    Pembuatan beton dengan menggunakan mesin khususnya Beton ready-mix mempunyai kelebihan dibandingkan bila beton dibuat secara manual, antara lain:
    – Beton dapat dibuat dalam jumlah yang besar (sampai dengan 6 m3 per 1 unit truckmixer).
    – Beton yang dihasilkan dapat lebih homogen dan lebih kental.

    Pembuatan Beton secara manual dikarenakan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
    – Jumlah beton yang dibutuhkan hanya sedikit.
    – Tidak ada mesin pengaduk (dengan mesin seperti molen)
    – Tidak ingin ada suara yang berisik (bila menggunakan molen)

    Terima Kasih

  3. dimanakah perbandingan efisiensi harga (biaya) baik memakai beton manual (molen) ataupun beton readymix

  4. Untuk pekerjaan yang membutuhkan volume beton yang besar akan terlihat sekali efisiensi biaya, seperti kebutuhan tenaga tukang sedikit dan efisien waktu. Perlu diingat bahwa waktu juga berperan dalam efisiensi biaya, semakin lama waktu pengerjaan maka biaya yang dikeluarkan akan semakin banyak, seperti untuk membayar upah tukang dan biaya operasional lainnya.

  5. pelaksana proyek memesan beton cor pra campur 6 kubik untuk di bawa ke lokasi…
    satu lagi pakek molen di aduk sendiri di lokasi 6 kubik juga…
    yang ingin saya tanyakan pengecoran yang mana lebih praktis dan tolong dijelaskan sedikit tentang harga, upah pekerja dan waktu..

  6. Mas Rizal,
    Untuk kepraktisan pengecoran, beton dengan volume 6 kubik atau sekitar 1-2 truckmixer dibandingkan dengan menggunakan molen tentunya perlu beberapa kali adukan molen, tentunya lebih praktis beton ready-mix, dengan beberapa pertimbangan:
    1. ditinjau dari harga material kemungkinan tidak terlalu berbeda, hanya saja perlu mempertimbangkan perbandingan antara sewa molen (bila kebutuhan molen lebih dari satu) dengan beton ready-mixed.
    2. ditinjau dari upah pekerja. Penggunaan molen tentunya lebih banyak membutuhkan pekerja (seperti untuk mengangkut beton ketempat acuannya, apalagi pada bangunan bertingkat). Bila menggunakan readymix, tentunya dapat langsung dituang keacuan.
    3. ditinjau dari segi waktu. Pengadukan dengan molen tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan ready-mix, begitu pula dengan kecepatan penuangan. (asumsi: akses readymix menuju lokasi mudah dijangkau).
    Semua pertimbangan diatas tentunya terdapat alasan yang tidak memungkinkan untuk menggunakan beton readymix dan tentu saja semuanya diserahkan kapada keputusan pelaksana proyek.

    Demikian penjelasan saya, kalau terdapat kekeliruan mohon diperbaiki. Terimakasih.

  7. slm knal mas wancik….
    saya sigit mahasiswa univ muhammdiyah yogya, saya mau tanya; didalam pengadukan beton dibutuhkan waktu pengadukan yang standar minimalnya sudah ditentukan pd SNI.Tetapi adakah pengaruh yang lebih signifikan tentang waktu pengadukan terhadap kekuatan beton maupun hal yang lain.bagaimana jika digunakan bahan tambah, superplasticizer misalnya.
    terimakasih

  8. slm knal mas

    kalo ada file pengerjaan bangunan beton kirim ke email saya ya.
    trimakasih

  9. assalammulaikum wr wr.
    1. klau boleh tahu berapa takaran material setiap satu kali pengecoran baik semen, pasir, kerikil dan air dengan mutu beton K-225..
    2. 1 m3 berapakah bahan material yang digunakan..

  10. Mas Adi,
    Takaran material untuk membuat 1m3 beton f’c=19.3 MPa (K-225), sekaligus jumlah harga satuannya per m3 beton dapat dipeoleh, salah satu rujukan bisa memakai standar Nasional yaitu SNI DT-91-0008-2007. Silahkan lihat di posting saya terdahulu https://wancik.wordpress.com/2009/03/26/sni-dokumen-teknis-2007/
    Semoga bermanfaat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: