Oleh: wancik | Senin, 15 Desember 2008

KERUSAKAN JALAN NASIONAL RELATIF KECIL

Kerusakan jalan memang menjadi tugas pemerintah untuk memperbaikinya. Namun perlu diketahui wewenang pemerintah pusat hanyalah sebatas menangani kerusakan jalan nasional. Di luar itu, tugas pemerintah daerah setempat yang lebih bertanggungjawab untuk memperbaikinya. Dari 35.000 km panjang jalan nasional yang berkondisi rusak hanya sekitar 10%. Angka prosentase ini hampir sama seperti tahun 2007 dimana 10 -11 porsen jalan yang tergolong rusak .

Hal itu diutarakan Direktur Bina Program Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Dannis Sumadilaga saat menjawab pertanyaan Reporter Metro TV di kantornya, Kamis (11/12) di Jakarta.

Menurut Dannis, pihaknya pada tahun 2008 memprogramkan perbaikan kerusakan jalan hingga menjadi 3-4%, sehingga pada tahun anggaran 2009 dipastikan tidak ada lagi kerusakan berat. Dia mengaku, dibeberapa lokasi saat ini terlihat banyak kerusakan jalan seperti halnya jalan-jalan di Kota DKI Jakarta misalnya. Pemda DKI dan Ditjen Bina Marga telah mengupayakan perbaikan. 

”Kami coba tingkatkan dengan upaya perbaikan hingga akhir Desember angka porsentasenya menurun hingga 3 – 4 %. Ini menjadi target kami dalam menangani jalan nasional,” tegas Dannis. 

Khusus untuk perbaikan jalan di dalam kota Jakarta, pihaknya telah mengusulkan kepada Pemda DKI agar dilakukan penelitian oleh Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Jalan. Hal itu dimaksudkan agar dapat diketahui problema kerusakan jalan termasuk cara mencari solusi terbaik bagi perkuatan dan perbaikan jalan yang kini dilanda kerusakan yang cukup parah. 

Hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang Jalan dapat diketahui dalam waktu tidak terlalu lama. Kami berharap minggu ini hasilnya dapat diketahui terkait dengan hal-hal penyebab kerusakan sekaligus solusi perbaikan yang harus dilakukan, ucap Direktur Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Kota Ditjen Bina Marga, Harris Batubara.

Menurut Dannis, 3 faktor penyebab rusaknya jalan yaitu faktor luar (banjir, bencana alam, tidak berfungsinya drainase), kelebihan beban muatan dan pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Harus diakui, jalan yang ada tidak di desain tahan terhadap genangan air. Akibatnya, setiap musim penghujan banyak ditemui jalan-jalan yang semula kondisinya baik menjadi berlubang akibat genangan air dari luapan drainase yang tidak berfungsi.

Harris menambahkan, masyarakat dapat melihat kerusakan jalan yang diakibatkan dari muatan berlebih (tonase). Jalur Bus Way terlihat rusak. Padahal muatannya belum seberapa dibandingkan kendaraan truk besar yang muatannya di atas 30 ton. Masyarakat dapat mengambil pelajaran dari hal-hal seperti itu. Artinya, bukanlah suatu pembelaan diri bahkan menjadi bukti kendaraan dengan beban muatan berlebih mempercepat kerusakan jalan. (Sony)

Pusat Komunikasi Publik

121208.  (Sumber: http://www.pu.go.id/)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: