Oleh: wancik | Minggu, 3 Februari 2013

Selayang Pandang HUKUM KONTRAK

Jalan2 ke mall untuk stress release ternyata membawa manfaat juga, kebenaran terliat kerubungan orang yg mengacak acak buku di sebuah toko buku ternama, ehh gak tau nya tertulis di papan harga Rp5.000,-. Jadi penasaran buku apa aja yang ada di sana, ternyata campur aduk buku, kemungkinan ini buku2 lama alias cuci gudang. Mata mulai hunting sambil melihat2 judul2 buku yang bertebaran..wah ada buku bagus (tp kyknya belum tentu bagus utk semua orang) pikirku…

Ringkas cerita dapat 10 buku.. wah lumayanlah buat menambah pengetahuan dengan harga yang tidak sebanding dengan isi nya😀 yang jelas dapat dikatakan manfaat ilmunya lebih tinggi daripada harganya. Dan kupikir lebih baik di sharing di sini, mungkin dapat bermanfaat walaupun tidak seluruh isinya aku tuliskan disini. Dan buku yang ku sharing ini tentang Membuat Surat-surat Kontrak. Langsung ke materi aja kalau bgitu.

Hukum Kontrak

Kata Kontrak berasal dari bahasa Inggris, yaitu Contract yang berarti Perjanjian. Dalam istilah sehari hari, istilah kontrak sering diucapkan saat seseorang ingin menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal (kontrak rumah).
Dalam bahasa sederhananya, Kontrak adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih tentang sesuatu hal yang mengakibatkan salah satu pihak mempunyai kewajiban terhadap yang lain, begitu juga sebaliknya.

Hukum Kontrak adalah hukum yang mengatur tata cara, hal-hal yang harus dipatuhi, dan penegakan kontrak itu sendiri. Dengan kata lain, hukum kontrak menetapkan garis-garis besar bagaimana kontrak tersebut akan, sedang, dan telah dilaksanakan oleh masing-masing pihak.

Penyusunan Kontrak disyaratkan oleh adanya 2 unsur, yaitu:
1. Adanya kebutuhan akan bantuan.
2. Adanya kebutuhan akan memperoleh keuntungan dari bantuan yang diberikan.

Melalui Kontrak tercipta perikatan antara para pihak untuk mematuhi perjanjian yang telah mereka buat bersama. Kontrak sangat bermanfaat sebagai pegangan, pedoman, dan alat bukti bagi para pihak pembuatnya. Adanya Kontrak yang baik akan mencegah terjadinya perselisihan, karena semua perjanjian sudah diatur dengan jelas sebelumnya. Kalaupun ada perselisihan, kontrak membantu upaya penyelesaiannya. Selain itu Kontrak yang baik memberikan jaminan kepastian yang besar kepada para pihak, sehingga membantu kelancaran pelaksanaan transaksi bisnis.

Perjanjian menurut Pasal 1313 KUH PErdata adalah suatu perbuatan satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Perjanjian menerbitkan suatu perikatan antara dua pihak yang membuatnya.

Hubungan hukum yang timbul oleh adanya kontrak disebut dengan Perikatan, karena kontrak tersebut mengikat para pihak yang terlibat, yaitu adanya hak dan kewajiban yang timbul didalamnya, yang merupakan perjanjian yang sengaja dibuat secara tertulis sebagai suatu alat bukti bagi para pihak. Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua belah pihak atau lebih, yakni pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak lain dan pihak yang lainnya berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.

Asas Hukum Kontrak
1. Asas Kebebasan Berkontrak
2. Asas Konsensualitas (Kesepakatan)
3. Asas Iktikat Baik
4. Asas Kepastian Hukum
5. Asas Kepribadian

Syarat Sah Kontrak
Pasal 1320 KUH Perdata menyebutkan untuk sah nya suatu perjanjian harus memenuhi 4 syarat sebagai berikut:
1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri.
2. Kecakapan untuk membuat perikatan.
3. Suatu hal tertentu. (Objek yang diatur dalam Kontrak harus jelas atau setidak2nya dapat ditentukan)
4. Suatu sebab yang diperbolehkan atau halal. (Tidak bertentangan dengan peundang2an, ketertiban umum, dan kesusilaan)

Akibat Hukum Suatu Kontrak
Lahirnya suatu kontrak menimbulkan hubungan hukum perikatan dalam bentuk hak dan kewajiban. Pemenuhan hak dan kewajiban inilah yang merupakan akibat hukum suatu kontrak, dengan kata lain adalah pelaksanaan dari isi kontrak itu sendiri.

Pelaksanaan suatu kontrak harus ditetapkan secara tegas, cermat, serta harus dituangkan dan tercermin dalam isi kontrak. Umumnya, pihak-pihak yang mengadakan suatu kontrak tidak mengatur atau menetapkan hak dan kewajiban mereka secara teliti. Para pihak hanya menetapkan hal-hal yang pokok dan penting saja. Hal ini biasanya dikarenakan penyusunan kontrak yang dilakukan secara terburu-buru sehingga lahirlah suatu kontrak yang tidak baik bahkan dapat menimbulkan permasalahan tertentu yang akan menghabiskan tenaga, pikiran dan waktu. Misalnya muncul pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum diatur dalam kontrak, sehingga harus dibicarakan kembali oleh para pihak yang terikat oleh kontrak tersebut.

Dengan demikian, untuk menyusun suatu kontrak yang baik dan benar, para pihak pembuat kontrak harus memiliki perencanaan yang matang dan mengetahui tahap-tahap yang harus dilalui. Sebaiknya penyusunan kontrak dimulai sebelum negosiasi dilakukan, tujuannya agar semua informasi yang berkaitan dengan isi kontrak dan berbagai kepentingan para pembuat kontrak dapat terakomodir seluruhnya saat negosiasi dilakukan.
(Sumber : Penduan Lengkap Membuat Surat-Surat Kontrak (Frans S. Wicaksono, SH))

Semoga bermanfaat.


Responses

  1. Siiip, bagus Mas…

  2. Reblogged this on Ronny_JZ 29 RW and commented:
    mencoba untuk mengerti….

  3. menambah pengetahuan baru,…thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: